Langkah Kecil, Arti Besar: Mahasiswa Telkom University Membantu Warga Kampung Lamajang Peuntas

REDAKSI JABAR

- Redaksi

Sabtu, 26 April 2025 - 17:14 WIB

50415 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

SATUNEWS.NET – Pagi itu, langit Desa Citeureup tampak lebih cerah. Namun di Kampung Lamajang Peuntas, sisa-sisa banjir masih membekas kuat. Lumpur mengering di jalanan, dinding rumah kusam penuh bercak air, dan di sudut-sudut kampung, harapan perlahan bangkit kembali.

Di tengah suasana itu, enam mahasiswa dari Telkom University hadir membawa semangat baru. Muhammad Fahri, Azka Rahmadian, Auliana Mulia Hernawan, Muhammad Faqih, Fariduddin, dan Ivan Samuel tidak sekadar datang berkunjung. Mereka datang untuk bekerja, membantu, dan menguatkan.

Dok.Mahasiswa Telkom University, Saat Bantu Warga Pasang Bronjong di Bantaran Kali Cigede

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengubah Kesulitan Menjadi Gerakan

Banjir yang menerjang wilayah Dayeuhkolot, termasuk Kampung Lamajang Peuntas, bukanlah hal baru bagi warga. Setiap musim hujan, kecemasan datang bersamaan dengan derasnya aliran Sungai Cigede. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada tangan-tangan muda yang ikut menopang beban itu.

Tanpa ragu, para mahasiswa ini ikut memasang bronjong di sepanjang bantaran sungai. Mereka memanggul batu, mengikat kawat, dan memperkuat tanggul yang rapuh. Keringat bercampur lumpur, namun senyum mereka tetap merekah.

“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton,” ujar Muhamad Fahri. “Kami ingin menjadi bagian dari perjuangan warga.”

Selain memperkuat tanggul, mereka juga membantu membersihkan sisa lumpur yang menghambat jalan dan halaman rumah. Setiap sapuan sekop dan ayunan cangkul yang mereka lakukan membawa perubahan kecil yang berarti besar bagi kehidupan warga.

Ketulusan yang Menyentuh Hati

Aksi sederhana ini menyentuh banyak hati. Warga, yang semula lelah dan putus asa, menemukan kembali semangat melalui kebersamaan yang tercipta.

“Saat banyak orang memilih diam, mereka datang membantu,” tutur Ibu Yani, salah seorang warga. “Mereka tidak hanya membersihkan lumpur, mereka membersihkan rasa takut kami.”

Tokoh Masyarakat Tri Rahmanto pun mengapresiasi inisiatif ini. Mereka melihat kehadiran para mahasiswa sebagai bukti bahwa dunia pendidikan tidak terpisah dari realitas sosial, melainkan hadir dan menyatu di tengah masyarakat.

Belajar di Tengah Kehidupan Nyata

Bagi para mahasiswa, pengalaman ini jauh lebih berharga daripada sekadar teori di ruang kelas. Mereka belajar tentang kehidupan, tentang kerja keras, dan tentang bagaimana menghadapi kesulitan dengan hati terbuka.

“Di kampus, kami belajar tentang manajemen dan teori sosial. Di sini, kami belajar tentang makna kemanusiaan,” ujar Auliana Mulia Hernawan.

Mereka membuktikan bahwa nilai seorang mahasiswa bukan hanya diukur dari indeks prestasi, tetapi juga dari keberanian mereka mengambil peran dalam membangun masyarakat.

Jejak yang Tertinggal

Ketika sore menjelang, para mahasiswa mengemasi alat-alat kerja mereka. Matahari mulai condong, namun di sepanjang bantaran Sungai Cigede, tanggul-tanggul baru berdiri kokoh.

Wajah-wajah warga terlihat lebih lega. Anak-anak kembali bermain, sesekali melompat di atas tanah becek yang mulai mengering.

Enam mahasiswa itu mungkin hanya menjalani satu hari di Kampung Lamajang Peuntas. Namun jejak mereka tertinggal — bukan hanya pada tumpukan karung  yang disusun, tetapi juga di hati setiap warga yang mereka bantu.

Mereka membuktikan bahwa langkah kecil, jika diambil dengan hati yang tulus, bisa membawa arti besar bagi banyak orang.

Dan di hari itu, di sudut kecil Bandung yang sempat terendam air, lahirlah sebuah kisah tentang kepedulian, kebersamaan, dan harapan yang terus mengalir.

Wapimred
(Dera Restu)

Berita Terkait

Grand Final Duta GenRe Kota Bandung 2026 Lahirkan 3 Finalis Terbaik
Wagub Erwan Dorong Pelaku Jasa Konstruksi Semakin Profesional dan Berorientasi Kualitas Pekerjaan
Fadly Amran & FKKP Gas Padang Jadi Kota Kuliner Internasional
Sejumlah Temuan Proyek Infrastruktur Jadi Sorotan, ARM Bersiap Gelar Aksi Unjuk Rasa
Farhan: Bangun Bandung Tak Cukup Teknis, Perlu Penguatan Spiritual dan Gotong Royong
Pangdam III/Siliwangi: Koperasi Merah Putih Jadi Pilar Penguat Ekonomi Kerakyatan
Rancamanyar-Rancamulya 50 Persen, Tirta Raharja Target 1.000 Sambungan Baru
Spirit of Bandung Jadi Nafas Baru PMII Jabar di Bawah Rusli Hermawan

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:47 WIB

Wagub Erwan Dorong Pelaku Jasa Konstruksi Semakin Profesional dan Berorientasi Kualitas Pekerjaan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:59 WIB

Surat Resmi Tak Digubris, Transparansi DPUTRLH Dipertanyakan

Senin, 1 Juni 2026 - 18:06 WIB

Warga Resah, Rumah di Blok Pecuk Panyindangan Kulon Diduga Jadi Lokasi Transaksi Obat Keras Daftar G

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:53 WIB

Fadly Amran & FKKP Gas Padang Jadi Kota Kuliner Internasional

Minggu, 31 Mei 2026 - 15:16 WIB

Sejumlah Temuan Proyek Infrastruktur Jadi Sorotan, ARM Bersiap Gelar Aksi Unjuk Rasa

Minggu, 31 Mei 2026 - 06:55 WIB

Di Balik Klaim 100% LHKPN Pemkot Bekasi: Oknum Disdagperin “R” Diseret ke Kejagung dan KPK Atas Dugaan Korupsi Aset Pasar

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:46 WIB

Ega Ayu Aryani, Anak Aman Yani, Ungkap Peran Ririn dalam Pengambilan Uang atas Perintah Ayahnya

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:12 WIB

Toni RM Tegaskan Tak Membela yang Salah: “Jika Tidak Ada Bukti Kuat, Ririn Harus Dibebaskan”

Berita Terbaru