SATUNEWS.NET— Puluhan warga dari RW 05 dan RW 16, wilayah Lamajang Peuntas, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, turun langsung ke bantaran Sungai Cigede pada Minggu (20/4) untuk melakukan pemasangan bronjong secara swadaya.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah Desa Citeureup yang dinilai abai terhadap penanganan tanggul sungai yang jebol.

Luapan Sungai Cigede yang terus berulang setiap kali hujan deras mengguyur telah menyebabkan banjir merendam permukiman warga dengan ketinggian air mencapai sekitar 70 sentimeter.
Meski kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, warga menyebut belum ada upaya konkret dari pemerintah desa untuk menangani persoalan tersebut.
Ketua DKM Masjid Miftahul Jannah sekaligus tokoh masyarakat setempat, Ustaz Setiadi, menyatakan warga sudah dua kali melakukan pemasangan bronjong di titik-titik rawan banjir secara mandiri, menyusul tidak adanya bantuan atau respons dari pihak desa.
“Hari ini kami, warga RW 05 dan RW 16 bersama Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Miftahul Jannah, kembali melakukan pemasangan bronjong untuk mencegah luapan air Sungai Cigede. Ini adalah aksi kedua yang kami lakukan secara swadaya,” ujar Setiadi kepada media di lokasi kegiatan.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut diprakarsai oleh tokoh masyarakat Lamajang Peuntas, Tri Rahmanto.
Target pemasangan bronjong sendiri direncanakan sepanjang 70 meter, dilakukan secara bertahap di beberapa titik kritis yang rawan banjir.
Setiadi mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Pemerintah Desa Citeureup yang dianggap tidak menunjukkan kepedulian terhadap kondisi warganya.
“Sampai hari ini tidak ada tindakan, tidak ada koordinasi, bahkan sekadar kehadiran pun tidak. Padahal ini menyangkut keselamatan warga,” ucapnya dengan nada kecewa.
Kekesalan warga juga sempat memuncak saat proses pemasangan berlangsung. Beberapa di antaranya terdengar melontarkan protes dalam bahasa Sunda, mempertanyakan keberadaan aparatur desa.

“Kamana pihak desana? Tong molor wae! Aya kitu teu pamaréntah désa téh?” (Ke mana pihak desa? Jangan tidur terus! Pemerintah desa ini ada atau tidak?)
Menariknya, dalam kegiatan ini turut hadir aparat kepolisian dari Polsek Dayeuhkolot yang memantau dan memberikan dukungan pengamanan.
Kehadiran polisi menjadi bentuk perhatian terhadap inisiatif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan keselamatan wilayahnya.
Lebih lanjut, Setiadi menjelaskan bahwa aksi pemasangan bronjong akan terus dilanjutkan hingga seluruh target terpenuhi.
Selain itu, warga juga berencana melakukan normalisasi aliran sungai dengan membersihkan endapan lumpur yang menyumbat aliran air.
“Kami akan terus berikhtiar, karena jika bukan kami, siapa lagi? Kami berharap pemerintah desa bisa membuka mata dan segera turun tangan,” tegasnya.
Sampai berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Citeureup belum memberikan keterangan resmi terkait aksi warga maupun kondisi tanggul Sungai Cigede yang jebol.***











































