SATUNEWS.NET— Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bandung menyebabkan Sungai Cigeude meluap pada Rabu malam (14/5/2025), hingga mengakibatkan banjir di beberapa titik padat pemukiman.
Air sungai Cigeude merendam rumah warga dan sejumlah fasilitas umum, termasuk SMPN 1 Pasigaran yang berada di wilayah RW 17, Kecamatan Dayeuhkolot.

Sejak pagi hingga sore hari Kamis (15/5/2025), masyarakat bergerak cepat dalam upaya tanggap darurat. Selain mengganggu aktivitas harian, banjir juga meninggalkan dampak serius berupa tumpukan sampah, lumpur, dan potongan kayu besar yang terbawa arus. Bahkan, salah satu jembatan penghubung antar kampung mengalami kerusakan akibat hantaman material banjir.
Dalam situasi tersebut, Tri Rahmanto, tokoh masyarakat dari Lamajang Peuntas, kembali mengambil peran sentral sebagai penggerak warga. Ia mengoordinasikan aksi gotong royong massal yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan relawan.
Kegiatan ini diikuti oleh Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA), warga dari RW 05, RW 16, dan RW 17, serta relawan dari berbagai pihak.
Kolaborasi pun terjalin erat bersama BPBD Kabupaten Bandung, Pemadam Kebakaran, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan sejumlah mahasiswa dari Telkom University yang dikoordinatori oleh Auliana.

“Sebagai mahasiswa, kami merasa perlu hadir dan ambil bagian dalam proses pemulihan ini. Ini adalah bentuk nyata pengabdian kami kepada masyarakat,” kata Auliana, mewakili rekan-rekannya dari Telkom University.
Dengan semangat kebersamaan, warga dan relawan bahu-membahu membersihkan lingkungan dari sisa banjir. Tumpukan kayu dan sampah yang menyumbat aliran sungai berhasil diangkut menggunakan dump truck milik Pemerintah Kabupaten Bandung yang diturunkan ke lokasi.
Menurut Tri Rahmanto, aksi ini merupakan bentuk konkret dari dukungan terhadap visi “Bandung Bedas” yang digaungkan oleh Bupati Bandung, H. Dadang Supriatna.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya inisiatif warga, tapi juga tindak lanjut dari instruksi Bupati kepada tokoh masyarakat agar terus memperkuat kolaborasi antara warga dan pemerintah dalam penanganan pascabencana.
“Kita ingin menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Bandung tidak hanya siap menghadapi bencana, tapi juga siap bangkit dan pulih bersama. Kebersamaan inilah inti dari semangat Bedas,” tegas Tri.
Kegiatan bersih-bersih ini menjadi cerminan kuat dari kepedulian sosial, kekompakan warga, serta sinergi antarsektor yang tumbuh di tengah bencana. Tak hanya mempercepat proses pemulihan, aksi ini juga memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan dan kesiapsiagaan bencana.***











































