SATUNEWS.NET – Pagi itu, langit Desa Citeureup tampak lebih cerah. Namun di Kampung Lamajang Peuntas, sisa-sisa banjir masih membekas kuat. Lumpur mengering di jalanan, dinding rumah kusam penuh bercak air, dan di sudut-sudut kampung, harapan perlahan bangkit kembali.
Di tengah suasana itu, enam mahasiswa dari Telkom University hadir membawa semangat baru. Muhammad Fahri, Azka Rahmadian, Auliana Mulia Hernawan, Muhammad Faqih, Fariduddin, dan Ivan Samuel tidak sekadar datang berkunjung. Mereka datang untuk bekerja, membantu, dan menguatkan.

Mengubah Kesulitan Menjadi Gerakan
Banjir yang menerjang wilayah Dayeuhkolot, termasuk Kampung Lamajang Peuntas, bukanlah hal baru bagi warga. Setiap musim hujan, kecemasan datang bersamaan dengan derasnya aliran Sungai Cigede. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada tangan-tangan muda yang ikut menopang beban itu.
Tanpa ragu, para mahasiswa ini ikut memasang bronjong di sepanjang bantaran sungai. Mereka memanggul batu, mengikat kawat, dan memperkuat tanggul yang rapuh. Keringat bercampur lumpur, namun senyum mereka tetap merekah.
“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton,” ujar Muhamad Fahri. “Kami ingin menjadi bagian dari perjuangan warga.”
Selain memperkuat tanggul, mereka juga membantu membersihkan sisa lumpur yang menghambat jalan dan halaman rumah. Setiap sapuan sekop dan ayunan cangkul yang mereka lakukan membawa perubahan kecil yang berarti besar bagi kehidupan warga.
Ketulusan yang Menyentuh Hati
Aksi sederhana ini menyentuh banyak hati. Warga, yang semula lelah dan putus asa, menemukan kembali semangat melalui kebersamaan yang tercipta.
“Saat banyak orang memilih diam, mereka datang membantu,” tutur Ibu Yani, salah seorang warga. “Mereka tidak hanya membersihkan lumpur, mereka membersihkan rasa takut kami.”
Tokoh Masyarakat Tri Rahmanto pun mengapresiasi inisiatif ini. Mereka melihat kehadiran para mahasiswa sebagai bukti bahwa dunia pendidikan tidak terpisah dari realitas sosial, melainkan hadir dan menyatu di tengah masyarakat.
Belajar di Tengah Kehidupan Nyata
Bagi para mahasiswa, pengalaman ini jauh lebih berharga daripada sekadar teori di ruang kelas. Mereka belajar tentang kehidupan, tentang kerja keras, dan tentang bagaimana menghadapi kesulitan dengan hati terbuka.
“Di kampus, kami belajar tentang manajemen dan teori sosial. Di sini, kami belajar tentang makna kemanusiaan,” ujar Auliana Mulia Hernawan.
Mereka membuktikan bahwa nilai seorang mahasiswa bukan hanya diukur dari indeks prestasi, tetapi juga dari keberanian mereka mengambil peran dalam membangun masyarakat.
Jejak yang Tertinggal
Ketika sore menjelang, para mahasiswa mengemasi alat-alat kerja mereka. Matahari mulai condong, namun di sepanjang bantaran Sungai Cigede, tanggul-tanggul baru berdiri kokoh.
Wajah-wajah warga terlihat lebih lega. Anak-anak kembali bermain, sesekali melompat di atas tanah becek yang mulai mengering.
Enam mahasiswa itu mungkin hanya menjalani satu hari di Kampung Lamajang Peuntas. Namun jejak mereka tertinggal — bukan hanya pada tumpukan karung yang disusun, tetapi juga di hati setiap warga yang mereka bantu.
Mereka membuktikan bahwa langkah kecil, jika diambil dengan hati yang tulus, bisa membawa arti besar bagi banyak orang.
Dan di hari itu, di sudut kecil Bandung yang sempat terendam air, lahirlah sebuah kisah tentang kepedulian, kebersamaan, dan harapan yang terus mengalir.
Wapimred
(Dera Restu)











































