Anak-Anak Rimba Cianjur Selatan: 5 Tahun Hidup di Dasar Hutan, Pemerintah Ada di Mana?

REDAKSI JABAR

- Redaksi

Minggu, 17 Mei 2026 - 15:45 WIB

5035 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anak-Anak Rimba Cianjur Selatan: 5 Tahun Hidup di Dasar Hutan, Pemerintah Ada di Mana?

CIANJUR SELATAN– Jarak dari jalan raya ke rumah mereka tidak diukur dengan kilometer, tapi dengan keringat, tanjakan, dan tikungan maut. Di dasar hutan Cianjur Selatan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hidup sebuah keluarga 5 orang yang bertahun-tahun luput dari perhatian.

Sebut saja Neng En dan keluarganya. Mereka tinggal di sebuah gubuk di tengah hutan, kiri kanan jurang curam, jalan setapak berliku yang harus ditempuh berjam-jam untuk sampai ke perkampungan terdekat. Kisah ini pertama kali terekam oleh konten kreator medsos Om P, yang mendokumentasikan keseharian mereka dalam petualangan ke pelosok Cianjur Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kronologis Hidup di Ujung Rimba

Tahun 1-2: Bertahan dengan Apa Adanya  

Keluarga Neng En memilih tinggal di dasar hutan bukan karena ingin mengasingkan diri. Awalnya mereka pindah ke lahan warisan yang jauh dari akses jalan. Untuk ke pasar, mereka harus berjalan 2-3 jam menuruni dan menaiki tebing. Air diambil dari mata air, listrik tidak ada. Makan sehari-hari bergantung pada hasil kebun kecil: singkong, pisang, sayur yang ditanam sendiri.

Tahun 3-4: Anak-Anak Tumbuh Tanpa Sekolah Tetap

Lima anggota keluarga itu hidup dengan rutinitas yang sama setiap hari. Pagi mencari kayu bakar, siang mengurus kebun, malam beristirahat dengan penerangan lampu teplok. Anak-anak mereka putus-nyambung sekolah karena jarak ke SD terdekat lebih dari 8 km. Hujan sedikit saja, jalan setapak jadi licin dan berbahaya.

Tahun 5: Ketahuan Dunia Luar Lewat Medsos  

Baru ketika Om P, seorang petualang medsos, mendokumentasikan perjalanan ke lokasi itu, publik tahu ada warga Cianjur yang hidup seperti “terasing” di zaman sekarang. Video itu memperlihatkan bagaimana keluarga Neng En menyambut tamu dengan senyum, meski hidup dalam keterbatasan. Tidak ada sinyal, tidak ada akses kesehatan, tidak ada bantuan yang datang rutin.

Pertanyaan Besar: Pemerintah Ada di Mana?

Kisah ini menimbulkan satu pertanyaan yang menusuk: ke mana peran pemerintah?

1. Dinas Perumahan dan Pemukiman 

Mengapa ada warga yang hidup di lokasi rawan longsor dan sulit dijangkau tanpa program relokasi atau pembangunan infrastruktur dasar? Rumah layak huni dan akses jalan adalah hak dasar warga negara.

2. Dinas Sosial dan Perekonomian  

Di mana program pemberdayaan ekonomi untuk keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem? Bantuan sosial, PKH, atau program usaha mikro seharusnya bisa menyentuh mereka.

3. Dinas Dukcapil  

Apakah anak-anak di keluarga ini memiliki akta kelahiran, KTP, dan akses layanan kependudukan? Tanpa dokumen, mereka akan terus terpinggirkan dari program bantuan pemerintah.

4. Tanggung Jawab Bupati Cianjur  

Sebagai kepala daerah, Bupati memiliki tanggung jawab memastikan tidak ada warganya yang tertinggal. Program Cianjur Manjur seharusnya menyentuh hingga ke titik nol: desa paling terpencil, hutan paling dalam.

Hutan Bukan Alasan untuk Dilupakan

Keluarga Neng En bukan satu-satunya. Di Cianjur Selatan, masih ada kantong-kantong warga yang hidup di wilayah sulit dijangkau. Mereka bukan menolak modernisasi, tapi sistem yang belum menjangkau mereka.

Pemerintah daerah tidak bisa lagi berdalih “jauh” dan “sulit diakses”. Justru karena sulit, negara harus hadir. Jalan, jembatan gantung, listrik tenaga surya, posyandu keliling, dan sekolah luar biasa sudah banyak diterapkan di daerah terpencil lain.

Kisah Neng En dan Om P adalah pengingat: pembangunan tidak selesai di pusat kota. Pembangunan selesai ketika anak di dasar hutan bisa sekolah, berobat, dan merasa menjadi bagian dari Indonesia.

Redaksi SatuNews. Id

Kami membuka ruang bagi pembaca yang memiliki informasi serupa di wilayah lain. Kirimkan kisahnya, agar tidak ada lagi warga yang hidup dalam diam.

 

Berita Terkait

Cegah Api Meluas, Tim Gabungan Regional-2 Riau 1 PT. Agrinas Palma Nusantara Sigap dan Turut Serta Tangani Karhutla di Peringgan Kebun Banyu Bening Utama
Rekanan Mitra PT. Agrinas Palma Nusantara Berikan Penjelasan Regulasi SOP Pelaksana Agar Masyarakat Paham dan Tidak Diadu Domba
BBC: Pemkot Bandung Jangan Ganggu Car Free Day (CFD) Buah Batu! Begini jelanya!
Ketua DPD KESTI TTKKDH SALEH PURNAWAN, Purnawa Hadiri Latihan Rutin Padepokkan Macan Kumbang Kedondong
Motor Dilarang Masuk Sekolah, Parkir Malah Menjamur di Rumah Warga: KCD XII Jangan Tutup Mata!
Implementasi Asta Cita, PERMAHI Jambi Bahas Tantangan Koperasi Merah Putih
Bulog Karo Gelar Pasar Murah, Beras SPHP Dipastikan Tersedia di Kabanjahe
Nayu Aldila Putri Resmi Pimpin Biro Hukum Pemprov Bengkulu

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 14:01 WIB

Cegah Api Meluas, Tim Gabungan Regional-2 Riau 1 PT. Agrinas Palma Nusantara Sigap dan Turut Serta Tangani Karhutla di Peringgan Kebun Banyu Bening Utama

Jumat, 11 September 2026 - 21:36 WIB

Rekanan Mitra PT. Agrinas Palma Nusantara Berikan Penjelasan Regulasi SOP Pelaksana Agar Masyarakat Paham dan Tidak Diadu Domba

Jumat, 11 September 2026 - 00:02 WIB

BBC: Pemkot Bandung Jangan Ganggu Car Free Day (CFD) Buah Batu! Begini jelanya!

Kamis, 10 September 2026 - 02:07 WIB

Motor Dilarang Masuk Sekolah, Parkir Malah Menjamur di Rumah Warga: KCD XII Jangan Tutup Mata!

Sabtu, 5 September 2026 - 13:17 WIB

Implementasi Asta Cita, PERMAHI Jambi Bahas Tantangan Koperasi Merah Putih

Sabtu, 5 September 2026 - 12:16 WIB

Bulog Karo Gelar Pasar Murah, Beras SPHP Dipastikan Tersedia di Kabanjahe

Kamis, 3 September 2026 - 23:17 WIB

Nayu Aldila Putri Resmi Pimpin Biro Hukum Pemprov Bengkulu

Kamis, 3 September 2026 - 11:58 WIB

Kabupaten Karo Disorot, Fraksi Harapan Desak Transparansi Dana Rp2 Miliar

Berita Terbaru