KOTA BANDUNG – Ibarat embun pagi yang meneteskan kesejukan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) kembali menegaskan bahwa Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu (Poe Ibu) bukanlah pungutan, melainkan gerakan gotong royong yang berakar pada kearifan lokal: silih asah, silih asih, silih asuh.(6/10/2025)
KDM membantah kabar adanya kebijakan pengumpulan uang Rp1.000 dari masyarakat, pelajar, pekerja, atau ASN.
“Tidak ada kebijakan seperti itu,” tegasnya.

“Yang ada hanyalah ajakan untuk menumbuhkan solidaritas sosial, dari tingkat RT sampai kepala daerah, agar saling menolong dalam kebaikan.”
Menurut KDM, banyak masyarakat yang masih terhambat oleh hal kecil namun berdampak besar, seperti ongkos menuju rumah sakit, biaya menunggu keluarga yang dirawat, atau perjalanan kemoterapi dari Cirebon ke Jakarta.
“Padahal, kadang mereka tidak butuh belas kasihan, hanya butuh tangan yang mau membantu,” ujarnya.
Dari sinilah muncul gagasan sederhana namun bermakna: “Sapoe Sarebu”, sejuta langkah dari seribu perak.
KDM mengusulkan agar setiap RT memiliki pengelola dana sukarela seperti tradisi beas jimpitan, uang seribu rupiah sehari yang dikumpulkan di kotak kecil depan rumah, tapi besar manfaatnya bagi yang membutuhkan.
“Kalau ada warga sakit dan tidak punya ongkos ke rumah sakit, maka dana itu bisa dipakai. Laporannya transparan, bahkan bisa lewat grup WA RT,” jelasnya sambil tersenyum.
KDM juga mengingatkan para kepala daerah agar ASN tak hanya hadir di meja kantor, tapi juga di tengah rakyat.
“Kalau ada anak datang tanpa sepatu ke sekolah, maka ASN bisa hadir membantu. Pelayanan itu bukan hanya di balik meja, tapi dari hati,” katanya.
Ia menegaskan, tak sepeser pun uang rakyat akan dikolektifkan oleh gubernur.
“Dana operasional gubernur digunakan untuk rakyat. Tak ada kaitan dengan APBD atau APBN. Ini murni gerakan kemanusiaan,” tegasnya.
Lewat gerakan yang ia sebut Balai Pananggeuhan, tempat warga saling menolong dan berbagi, KDM ingin menghidupkan kembali denyut gotong royong khas masyarakat Sunda.
“Gerakan ini bukan kewajiban, tapi ajakan. Hari ini kita menolong orang lain, mungkin besok kita yang ditolong. Begitulah roda kehidupan,” tutupnya penuh makna.(Rst)











































