LSM TRINUSA Ungkap 10 Kejanggalan Laporan Keuangan Bank Lampung 2024, Desak OJK dan Kejati Turun Tangan

KAPERWIL PROV. LAMPUNG

- Redaksi

Senin, 25 Mei 2026 - 09:57 WIB

5042 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

*BANDAR LAMPUNG*— Lembaga Swadaya Masyarakat Triga Nusantara Indonesia (TRINUSA) DPD Provinsi Lampung merilis kajian investigatif terhadap laporan keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Lampung Tahun Buku 2024. Hasil telaah tersebut mengungkap sederet kejanggalan serius yang dinilai patut menjadi perhatian aparat pengawas dan penegak hukum.

Dalam dokumen kajian tersebut, TRINUSA menemukan tidak kurang dari sepuluh indikator *red flag* yang secara bersamaan mencerminkan kondisi mengkhawatirkan pada bank milik pemerintah daerah Provinsi Lampung itu.

Laba Anjlok 41 Persen dalam Setahun

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Temuan paling mencolok adalah penurunan laba bersih yang drastis. Berdasarkan laporan laba rugi, laba bersih Bank Lampung tercatat Rp175,2 miliar pada 2023, namun merosot tajam menjadi hanya Rp103,1 miliar pada 2024 — penurunan sebesar Rp72,1 miliar atau **41,1 persen** dalam satu tahun buku. Dampaknya berpotensi mengurangi kontribusi dividen kepada pemerintah daerah dan menekan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

CKPN Meledak 141 Persen: Sinyal Kredit Bermasalah?

Yang lebih mencurigakan, lonjakan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) mencapai **141 persen** — dari Rp60 miliar pada 2023 menjadi Rp144,6 miliar pada 2024. TRINUSA menilai angka ini sebagai *red flag* utama dalam audit perbankan, mengindikasikan memburuknya kualitas kredit, meningkatnya risiko gagal bayar, atau adanya restrukturisasi kredit yang tidak sehat. TRINUSA bahkan menduga adanya potensi *kredit topengan* dan kredit bermasalah yang sengaja disembunyikan.

Kredit Tumbuh, Kas Malah Minus

Di tengah pertumbuhan penyaluran kredit dari Rp6,95 triliun menjadi Rp7,20 triliun, arus kas operasi Bank Lampung justru tercatat **negatif Rp26,97 miliar** pada 2024. Secara logika perbankan yang sehat, pertumbuhan kredit semestinya diikuti peningkatan pendapatan dan cash flow positif. Kondisi sebaliknya ini dinilai sebagai red flag tekanan kualitas kredit dan likuiditas yang serius.

Biaya Bengkak, Deposito Jebol

Beban barang dan jasa naik Rp14 miliar menjadi Rp95,2 miliar — pos yang rawan markup, pengadaan fiktif, dan vendor afiliasi. Lebih mengejutkan, beban non-operasional melonjak **142 persen** dari Rp4,8 miliar menjadi Rp11,6 miliar tanpa penjelasan yang memadai.

Di sisi pendanaan, deposito nasabah turun Rp302 miliar menjadi Rp4,57 triliun — indikasi deposan besar mulai menarik dana. Untuk menambal likuiditas, Bank Lampung meningkatkan dana antar bank dari Rp728 miliar menjadi Rp1,109 triliun, mencerminkan ketergantungan pada sumber dana eksternal jangka pendek yang semakin dalam.

Transaksi Pihak Berelasi dan Gejolak Direksi

Kajian juga menyoroti transaksi pihak berelasi yang rawan *conflict of interest* dan pemberian kredit istimewa kepada pihak dekat pengurus. Ditambah adanya pergantian direksi dan beberapa RUPS Luar Biasa sepanjang 2024, yang dalam perspektif audit tata kelola sering menjadi indikator konflik internal atau intervensi pemegang saham.

TRINUSA Desak OJK, BPK, dan Kejati Bertindak

Berdasarkan seluruh temuan itu, TRINUSA mendesak OJK melakukan pemeriksaan khusus kualitas kredit dan likuiditas, BPK melakukan audit investigatif atas vendor, transaksi pihak berelasi, dan CKPN, serta Kejaksaan Tinggi Lampung menelusuri dugaan penyimpangan dan potensi kerugian negara.

Temuan-temuan ini patut menjadi perhatian serius karena berpotensi mempengaruhi stabilitas bank daerah, dana masyarakat, kontribusi PAD, dan kepercayaan publik,”* tegas TRINUSA dalam kajiannya.

*Laporan ini disusun berdasarkan Kajian Investigatif LSM TRINUSA DPD Provinsi Lampung atas Laporan Keuangan Audited PT Bank Pembangunan Daerah Lampung Tahun Buku 2024.*

Berita Terkait

DIDUGA ADA “TONG” PENGOLAHAN EMAS DI WAY RATAI, TIGA LEMBAGA DESAK APARAT TURUN TANGAN
FAPMP Pringsewu Siap Gelar Aksi Besar-besaran, Soroti Dugaan Korupsi Tiga Dinas
Aset BUMDes Hadya Makmur Sidorejo: Klaim 107 Ekor, Hitungan Media Tak Capai 100 Ekor
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Meluas, Presiden GANTARA Sandi Febri Wijaya Imbau Warga Lampung Disiplin Gunakan Masker
LSM PAGAR Lampung Desak Transparansi Anggaran BPBD Tanggamus, Ancaman Aksi Turun Jalan
Calon Kakon Incumbent Tidak Bisa Maju Kembali Jika Bermasalah dengan ADD & Belum Selesaikan Temuan Inspektorat
DPD GILAS Tanggamus Soroti Dugaan Korupsi Anggaran BLUD dan BOK Puskesmas Gunung Alip , Puskesmas Kecamatan Gisting serta Dinkes
LSM TRINUSA Soroti Lonjakan Harta Unexplained Wealth Kepala BKPSDM Kabupaten Bogor: Naik 855% dalam 4 Tahun!

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 18:01 WIB

Dugaan Keracunan MBG di Karo, Puluhan Siswa SMK Negeri 1 Merdeka Dirawat

Senin, 14 September 2026 - 17:18 WIB

Bulog Karo Gencarkan Pasar Murah, Bantuan Pangan Capai 1.771 Ton

Jumat, 11 September 2026 - 21:36 WIB

Rekanan Mitra PT. Agrinas Palma Nusantara Berikan Penjelasan Regulasi SOP Pelaksana Agar Masyarakat Paham dan Tidak Diadu Domba

Jumat, 11 September 2026 - 00:02 WIB

BBC: Pemkot Bandung Jangan Ganggu Car Free Day (CFD) Buah Batu! Begini jelanya!

Kamis, 10 September 2026 - 16:42 WIB

Ketua DPD KESTI TTKKDH SALEH PURNAWAN, Purnawa Hadiri Latihan Rutin Padepokkan Macan Kumbang Kedondong

Kamis, 10 September 2026 - 02:07 WIB

Motor Dilarang Masuk Sekolah, Parkir Malah Menjamur di Rumah Warga: KCD XII Jangan Tutup Mata!

Sabtu, 5 September 2026 - 13:17 WIB

Implementasi Asta Cita, PERMAHI Jambi Bahas Tantangan Koperasi Merah Putih

Sabtu, 5 September 2026 - 12:16 WIB

Bulog Karo Gelar Pasar Murah, Beras SPHP Dipastikan Tersedia di Kabanjahe

Berita Terbaru